Header Ads

test
--

tidak semua kebaikan berakar pada ketulusan




Di sebuah kota kecil, ada seorang lelaki bernama Raga yang dikenal sebagai sosok paling baik. Senyumnya mudah, tangannya ringan menolong siapa saja. Orang-orang percaya padanya tanpa ragu, sebab kebaikannya selalu hadir di saat yang tepat.

Namun waktu adalah hakim yang tak bisa disuap. Perlahan, kebaikan Raga menunjukkan retaknya. Ada jeda sebelum ia menolong, ada hitungan sebelum ia memberi. Kebaikannya ternyata tumbuh bukan dari kebenaran, melainkan dari kebutuhan untuk dipuji dan diterima. Saat pujian berhenti, kebaikannya pun memudar.

Berbeda dengan Ibu Maya, perempuan tua yang nyaris tak pernah disebut. Ia menolong tanpa suara, memberi tanpa nama. Tak ada yang mengingat jasanya, kecuali mereka yang pernah diselamatkan diam-diam. Ketulusannya tak gemerlap, tapi bertahan.

Di sanalah orang-orang mulai mengerti: kebaikan yang lahir dari kebenaran akan hidup lama, sedangkan kebaikan yang dibalut kepura-puraan hanya singgah sebentar. Sejak hari itu, mereka belajar satu hal—berhati-hatilah pada orang baik, sebab tidak semua kebaikan berakar pada ketulusan.

Tidak ada komentar

//]]>