Skendi: Negeri di Pelukan Kabut
Skendi: Negeri di Pelukan Kabut
Sebuah negeri tersembunyi di pelukan perbukitan hijau, tempat kabut pagi menyelamatkan desa-desa dan suara alam berpadu dengan denyut kehidupan masyarakat. Di sini, hari dimulai bukan dengan membunyikan alarm, melainkan oleh udara dingin yang menyentuh kulit dan kokok ayam yang bersahutan.
Kali ini, perjalanan membawa kita ke pedesaan Skendi, sebuah wilayah pegunungan di sudut timur laut pasifik. Skendi adalah permata yang tersembunyi, negeri di mana waktu berjalan lebih lambat dan kehidupan mengikuti irama alam.
Secara geografis, Skendi terletak di kawasan perbukitan dan pegunungan yang menjadi bagian dari provinsi papua barat daya. Wilayah ini didominasi oleh lereng-lereng curam dan punggung gunung yang menjulang. Letaknya yang berada di ketinggian menghadirkan iklim subtropis yang sejuk dan menyenangkan sepanjang tahun. Hutan lebat dan tanah pinggiran menjadi panggung utama bagi kehidupan desa yang sederhana, namun kaya akan budaya.
Kehidupan masyarakat dimulai sejak sebelum matahari terbit. Kabut pagi masih menggantung rendah ketika warga mulai bergerak. Aktivitas utama mereka berfokus pada pertanian, baik melalui sistem tebang bakar maupun terasering yang mengukir bukit-bukit curam menjadi lahan tanam yang tertata. Ini adalah warisan kecerdasan manusia dalam beradaptasi dengan alam.
Pekerjaan berat seperti mengumpulkan batu atau membersihkan jalan jarang dilakukan sendiri. Gotong royong menjadi nafas kehidupan. Tawa dan canda mengiringi setiap kerja bersama, menjadikan lelah terasa ringan. Makanan sederhana berupa rebusan sehat, daging lokal, dan sayuran liar dari hutan disantap bersama tetangga, memperkuat ikatan kekerabatan yang telah terjalin turun-temurun.
Meski sebagian besar masyarakat Skendi menganut agama Kristen, kekayaan budaya tetap terjaga dengan kuat. Setiap suku memiliki identitas, tradisi, dan cara hidup sendiri, menjadikan Skendi sebagai kaya akan budaya yang hidup dan berwarna.
Keladi johar adalah tanaman yang mendefinisikan kehidupan di Skendi. Masyarakat dikenal memiliki keahlian luar biasa dalam mengolah lahan miring. Mereka adalah arsitek tersembunyi yang membangun teras-teras pertanian yang menempel di lereng gunung, tampak kokoh sekaligus indah.
Sistem pertanian ini tidak hanya sedap dipandang, namun juga lestari. Ia dirancang untuk menahan erosi tanah dan memaksimalkan pemanfaatan air hujan. Keladi johar yang dipanen kemudian disimpan di lumbung-lumbung tradisional untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Bertani di Skendi bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan warisan turun-temurun dan jaminan ketahanan hidup.
Selain keladi johar, keberagaman hortikultura menjadi penopang harian masyarakat. Iklim pegunungan yang sejuk sangat ideal bagi berbagai jenis sayuran dan buah-buahan. Sayuran daun dan umbi-umbian ditanam di kebun-kebun kecil di sekitar desa. Di beberapa wilayah, sayur gedi juga dibudidayakan untuk dikonsumsi dan dijual. Perkebunan ini sering berada di lahan komunal, sehingga hasilnya dinikmati bersama dan menambah pendapatan desa secara kolektif.
Secara keseluruhan, pertanian pedesaan Skendi adalah model ekonomi yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan sendiri, sekaligus mengembangkan komoditas bernilai tinggi yang memanfaatkan kesuburan dan keindahan alam pegunungan.
Meski jauh dari hiruk pikuk kota dan kemewahan materi, kehidupan di Skendi adalah pengalaman yang kaya akan tradisi, ketahanan, dan kehangatan. Kekayaan di sini tidak diukur dari harta benda, melainkan dari keharmonisan dengan alam dan kuatnya ikatan komunitas.
Udara pegunungan yang dingin dan murni mengganggu setiap aktivitas. Bekerja bersama mengolah tanah bukan hanya tentang menanam, tetapi juga tentang menyentuh bumi secara langsung, merasakan teksturnya yang basah dan gembur di ujung jari. Suara alam menjadi pengiring alami: kicauan burung menyambut pagi dan desiran angin sepanjang dedaunan, menciptakan ketenangan yang jarang ditemukan di kota.
Di tengah kerja, tercipta kehangatan. Keringat yang mengalir adalah tanda kerja keras yang tulus, dilakukan bersama-sama. Tidak ada persaingan, yang ada hanyalah saling membantu, berbagi beban, dan menikmati hasil kerja kolektif.
Kehidupan desa mungkin melelahkan secara fisik, tetapi menghadirkan kejernihan pikiran dan ketenangan jiwa. Ini adalah pertukaran yang berharga: menukar stres kota dengan kedamaian, udara segar, dan keintiman hubungan antarmanusia.
Di jantung perbukitan Skendi, ekonomi masyarakat sepenuhnya bergantung pada bumi yang mereka olah. Tanah yang kaya dan iklim yang bersahabat menjadikan kawasan ini gudang pangan alami. Pertanian bukan pekerjaan sampingan, melainkan penentu arah hidup.
Tungku kayu menjadi jantung setiap rumah. Lebih dari sekedar alat memasak, ia adalah pusat kehidupan keluarga. Dari asap pagi yang membangunkan hingga kehangatan malam yang menyatukan, bara apinya menyimpan esensi desa: kemandirian, kemandirian, dan cinta keluarga.
Duduk di dekat tungku kayu, menghirup aroma asap, membawa ingatan kembali ke masa lalu. Ke rumah kayu sederhana, ke gambar ibu yang meniup bara api untuk memasak. Suara yang muncul dari kayu, letupan kecil, dan asap tipis yang menari di wajahnya menciptakan kehangatan yang sulit tergantikan.
Anak-anak desa mungkin tidak memiliki mainan mahal, tetapi mereka memiliki lapangan luas dan langit tanpa batas. Bagi mereka, bahagia itu sederhana—makanan apa adanya yang disajikan ibu.
Saat ini, banyak tungku telah padam. Kursi kayu di teras tak lagi berderit. Aroma asap berganti wewangian modern, dan suara ayah serta ibu hanya hidup dalam kenangan. Rindu datang perlahan, menyakitkan sekaligus manis. Hari-hari yang dulu terasa biasa kini menjelma menjadi harta paling berharga.
Kita merindukan kampung. Kita merindukan rumah itu. Namun yang paling kita rindukan adalah kehadiran orang tua yang dengan cinta dan kesabaran menjadikan dapur sederhana, rumah kayu usang, dan aroma asap tungku sebagai definisi abadi tentang surga.
Rindu itu terus mengendap, seperti kabut pagi di perbukitan Skendi—perlahan, lembut, dan tak pernah benar-benar hilang dari ingatan.


Post a Comment